Halaman

Rabu, 10 April 2013

KEEFEKTIFAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 7 PALEMBANG



KEEFEKTIFAN MEDIA AUDIOVISUAL
DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK
SISWA KELAS VII SMP NEGERI 7 PALEMBANG

NAMA           : NURUL SAFITRI
NIM                : 312010116
           
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang sendiri melainkan diambil dari berbagai sumber. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan  sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal belajar untuk seseorang. Udin Saripudin dan Winataputra (1999:65) dalam Syaiful Bahri Djamarah (2002) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori yaitu manusia, buku perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan. Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka macam media  pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi media sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik.
Dalam pendidikan dimasa lalu, guru merupakan satu-satunya sumber belajar anak didik, sehingga kegiatan pendidikan cenderung masih tradisional. Tetapi lain halnya dengan masa sekarang, perangkat teknologi sudah ada di mana-mana, pertumbuhan dan perkembanganya kian pesat hingga wabahnyapun menyusup ke dalam dunia pendidikan.
Di sekolah-sekolah kini, teknologi sudah digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Teknologi yang disepakati sebagai media tidak hanya alat bantu belajar tetapi juga sebagai sumber belajar dalam proses belajar mengajar.
Salah satu media belajar adalah media audiovisual yaitu media yang mengandalkan kemampuan suara dan gambar. Media audiovisual sering digunakan guru sebagai media belajar untuk mepermudah penyampaian materi. Hal tersebut sependapat dengan Yudhi Munandi (2008:56) mengemukakan media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses.
 Oleh karena itu, penulis tertarik melakukan penelitian tentang keefektifan media audiovisual dalam meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas VII SMP Negeri 7 Palembang. Sepengetahuan penulis penelitian tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya.
B.     Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah apakah media audiovisual efektif  dalam meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas VII SMP Negeri 7 Palembang?
C.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah media audiovisual efektif kegunaannya dalam meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas VII SMP Negeri 7 Palembang.
D.    Hipotesis
       Media audiovisual efektif dalam meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas VII SMP Negeri 7 Palembang.
E.     Kegunaan Penelitian
 Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
1.      Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini maka siswa dapat meningkatkan kemampuan menyimak menjadi lebih baik dengan menggunakan media audiovisual.
2.      Bagi guru, diharapkan dapat dijadikan bahan acuan untuk meningkatkan mutu pelajaran bahasa Indonesia.
3.      Bagi penulis, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan penulis dalam meningkatkan kemampuan menyimak menjadi lebih baik.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Media
Secara umum media merupakan  alat bantu dalam proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menstimulasi pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pembelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Seperti yang diungkapkan oleh Latuheru (1988:11) media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi.
AECT (Association for Education and Communicatian Technology) dalam Harsoyo (2002) mengatakan bahwa “media pembelajaran merupakan segala bentuk yang dimanfaatkan dalam proses penyaluran informasi.” Sedangkan menurut Hamalik (1994:12) menyatakan bahwa media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran disekolah.
Jadi dapat disimpulkan bahwa media adalah alat atau perantara yang dipakai untuk menyampaikan ide, gagaasan, pesan atau informasi antara guru dan siswa sebagai proses interaksi belajar yang terencana, tersusun dan terarah untuk mengerti dan memahami sesuatu agar menjadi lebih jelas.
B.     Pengertian Media Audiovisual
Media pembelajaran berpengaruh pada proses belajar siswa dalam pengajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Media pembelajaran dibedakan menjadi beberapa jenis yang salah satu diantaranya yaitu media audio visual. Menurut Yudhi Munandi (2008:56) mengemukakan “media audiovisual adalah media yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses”. Pendapat lain dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2008:172) menyatakan bahwa “media audiovisual adalah jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat.”
Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Azhar Arsyad (2010:30) menyatakan bahwa “Pembelajaran melalui audio visual adalah produksi dan penggunaan materi yang penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung kepada pemahaman kata atau simbol-simbol yang serupa.”
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa media audiovisual adalah media atau alat bantu dalam proses pembelajaran yang menggunakan indera pendengar sekaligus indera penglihat, serta mengandung unsur suara dan unsur gambar yang diharapkan dapat membantu untuk lebih cepat memahami materi pembelajaran.
C.    Pengertian Menyimak
Dalam proses pembelajaran siswa pastinya melakukan kegiatan menyimak. Menyimak merupakan kegiatan mendengarkan dan memahami materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Menurut Anderson dalam Tarigan (2008:28) “menyimak sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan”.
Tarigan (2008:19) menyatakan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Pendapat lain juga dikatakan oleh Sutari,dkk (1997:17) yang mengungkapkan:
“Menyimak memiliki makna mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang dikatakan orang lain. Jelas faktor kesengajaan dalam kegiatan menyimak cukup besar, lebih besar daripada mendengarkan karena dalam kegiatan menyimak ada usaha memahami apa yang disimaknya sedangkan dalam kegiatan mendengarkan tingkatan pemahaman belum dilakukan. Dalam kegiatan menyimak bunyi bahasa yang tertangkap oleh alat pendengar lalu diidentifakasi, dikelompokkan menjadi suku kata, kata, frase, klausa, kalimat, dan akhirnya menjadi wacana.”

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak merupakan suatu keterampilan dalam berbahasa dengan mendengarkan lambang-lambang lisan, memahami, menginterpretasikan informasi yang diperoleh serta memaknai komunikasi yang disampaikan oleh pembicara.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini terdiri dari 2 variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independennya adalah tingkat menyimak siswa dan variabel dependennya adalah media audiovisual.
Dengan demikian rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut :


 

B.     Populasi dan Sampel
1)        Populasi
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan, jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya (Margono, 2003:118). Sedangkan menurut Sugiono (2006:117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Menurut Ibnu Hajar (1999:133) mengatakan bahwa populasi adalah kelompok besar individu yang mempunyai karakteristik umum yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa populasi adalah sekelompok individu yang ada dalam wilayah generalisasi dam memiliki karateristik untuk dapat dipelajari serta ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang terdapat di SMP Negeri 7 Palembang.

2)        Sampel
Menurut Ibnu Hajar, sampel ialah kelompok kecil individu yang dilibatkan langsung dalam penelitian (1999:133). Menurut Margono, sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu (2003:121). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan sampel adalah bagian dari populasi atau kelompok kecil dari populasi yang dilibatkan dalam penelitian dan dijadika contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu.
Teknik pengambilan sampel secara acak (random sampling) dari seluruh kelas yang ada di SMP Negeri 7 Palembang. Dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling yaitu dari jumlah seluruh kelas yang ada akan diambil satu (1) kelas, dan peneliti memilih sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 7 Palembang.
C.    Istrumen Penelitian
Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis (esai).

DAFTAR RUJUKAN SEMENTARA
Arsyad, Azhar. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta:RajaGrafindo Persada.
Callifornia, 1977. AECT. ”The Definition of Educational Technology“, 1977. Edisi Indonesia diterbitkan CV Rajawali dengan judul Defenisi Teknologi Pendidikan. (SERI PUSTAKA TEKNOLOGI PENDIDIKAN NO.7).

Djamarah, Syaiful Bahri; Aswan Zain (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.

Hadjar, Ibnu, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999.
                                                                          
Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung : Sinar Baru.
Ice Sutari, dkk. 1998. Menyimak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara DIII.

Latuheru. 1988. Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini. Jakarta: Depdikbud.

Margono, S. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.
Munandi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran. Cipayung-Ciputat: Gaung Persada.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan RD. Bandung: Alfabeta.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Wina, Sanjaya. 2008. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Prenada Media.

NILAI MORAL DALAM NOVEL DIAN YANG TAK KUNJUNG PADAM KARYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA



NILAI MORAL DALAM NOVEL DIAN YANG TAK KUNJUNG PADAM
KARYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA
I.         PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Sastra memiliki dua fungsi yaitu menghibur sekaligus mengajarkan sesuatu. Wellek (1993:3) mengemukakan sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Selain itu, karya sastra hendaknya memiliki fungsi berguna dan memuaskan pembaca, sehingga pembaca akan merasakan fungsi sastra dari karya sastra yang dikomsumsinya. Dalam fungsi makna, sastra sering tidak bebas nilai atau mengandung nilai tertentu, sastra mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Begitu juga tentang mengungkapkan tentang relasi perjumpaan personal antara manusia dengan Sang Pencipta dan termasuk juga nilai moral.
Karya sastra lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah ada dalam jiwa pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi (Aminuddin, 1990:57). Seorang pengarang ketika menulis cerita, dia sadar atau tidak sebenarnya menuangkan nilai moral tertentu. Dalam konteks itu, karya sastra sebenarnya adalah medan pertarungan nilai moral yang dilakukan oleh para pengarang dengan pembaca, sehingga memungkinkan pembaca untuk memberi garis dan batasan tafsirnya sendiri.
Novel adalah karya sastra prosa fiksi naratif yang biasanya berbentuk cerita. Hal ini sejalan dengan pemikiran (Sudjiman, 1990:55) yang menyatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang panjang, menyuguhkan tokoh-tokoh, dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar belakang secara terstruktur. Novel adalah bentuk karya sastra yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya sosial, moral, dan pendidikan. Dalam novel sendiri memiliki dua unsur yang membangun sebuah novel, kedua unsur tersebut adalah unsur instrisik dan unsur ektrinsik. Di dalam unsur ekstrinsik terdapat kajian yang membangun yaitu nilai moral, dalam sebuah novel nilai moral seringkali tidak secara langsung dijelaskan, pembaca biasanya dipersilahkan untuk menikmati jalan cerita yang mengandung pesan moral yang tersirat.
Menurut Semi (1993:52) mengatakan sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra, ia mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Produk ketelaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan ke dalam produk kritik sastra”.
Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam merupakan karya sastra yang dihasilkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Mempunyai cerita yang menarik dan konflik batin yang menarik untuk diikuti jalan ceritanya. Dalam novel ini juga terdapat pesan nilai moral yang ingin disampikan oleh penulis novel. Sehubungan dengan hal ini, penulis tertarik untuk mengkaji nilai moral yang terkandung  dalam novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana.
B.       MasalahPenelitian
Masalah yang akan diteliti adalah:
a. Bagaimanakah strukturalisme novel Dian Yang Tak Kunjung Padam nilai karya Sutan Takdir Alisjahbana?
b.    Nilai moral apa sajakah yang terdapat dalam novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana?
c.         Apa sajakah ajaran yang terkandung dalam nilai moral?
C.       Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai moral yang terkandung dalam novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana.
D.       Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, menghasilkan laporan yang sistematis dan dapat bermanfaat secara umum. Adapun manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Manfaat Teoritis
a.         Bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan mahasiswa untuk memotivasi ide atau gagasan baru yang lebih kreatif dan inovatif di masa yang akan datang, demi kemajuan diri dan mahasiswa. Dan juga memberikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa.
b.        Bagi peneliti
Diharapkan dapat memperoleh pengalaman lagsung dalam manganalisis sebuah karya sastra, memperoleh pengetahuan nilai moral dan memberi dorongan kepada peneliti lain untuk melaksanakan penelitian sejenis.
c.         Bagi pembaca
Diharapkan setelah membaca penelitaian ini pembaca dapat memahami nilai moral dan sebagai bahan untuk perbandingan dengan penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya dalam menganalisis nilai moral.
2.        Manfaat Praktis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai studi analisis terhadap sastra di Indonesia, terutama dalam bidang penelitian novel Indonesia yang memanfatkan teori Sosiologi Sastra.
b.        Hasil penelitian ini dapat menambah referensi penelitian karya sastra Indonesia dan menambah wawasan kepada pembaca tentang nilai moral dalam masyarakat.
II.      KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Sosioligi Sastra
Abrams (1981:178) mengatakan sosiologi sastra dikenakan pada tulisan-tulisan para kritikus dan ahli sejarah sastra yang  utamanya ditujukan pada cara-cara seseorang pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya, ideologi masyarakat, keadaan-keadaan ekonomi yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan jenis pembaca yang dituju.
B.     Pengertian Nilai
Budiardjo (1986:17) mengemukakan bahwa nilai adalah sesuatu yang dianggap benar dan baik, sesuatu yang diinginkan, atau sesuatu yang mempunyai harga. Nilai merupakan sesuatu yang menarik bagi manusia, sesuatu yang dapat menyenangkan, sesuatu yang disukai , dan sesuatu yang diingnkan, singkatnya sesuatu yang baik (Bertens, 1984:139).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang baik, benar, memiliki harga, dan menjadi pedoman manusia untuk melakukan hal yang diinginkan.
C.      Pengertian Moral
     Moral adalah sesuatu yang berhubungan dengan norma perilaku yang baik menurut kerukunan etis, pribadi, kaidah sosial dan ajaran tentang perbuatan baik (Sudarsono, 1993:159).  Secara umum menurut KBBI, moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya akhlak, budi pekerti, susila (dalam Nurgiyantoro, 1994:320). Moral dalam cerita, menurut Kenny (1966: 89; dalam Nurgiyantoro:321), biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.
Istilah moral berasal dari kata “mos/mores” yang berarti kebiasaan. Ia mengacu pada sejumlah ajaran, wejangan, khotbahtentang bagaimana manusia seharusnya hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik (Nurani Soyomukti, 2011: 224).
Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa moral merupakan ajaran nilai kebaikan dan keburukan yang menjadi panduan manusia dalam bertindak dikehidupan bermasyarakat, sehingga manusia tetap hidup dalam aturan-aturan dan ketentuan yang telah disepakati bersama. Moral secara umum mengarah pada pengertian ajaran tentang baik buruk yang diterima mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan sebagainya. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan, dan kelakuan (akhlak).
D.      Pengertian Nilai Moral
Wasono (1991:5) mengemukakan:
“Nilai moral pada dasarnya adalah nilai-nilai yang mengyangkut masalah kesusilaan, masalah budi, yang erat kaitannya antara manusia dan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan. Di sini manusia dibentuk untuk dapat membedakan antara perbuatan buruk dan yang baik.”

Ajaran moral adalah yang bertalian dengan perbuatan atau kelakuan manusia pada hakekatnya merupakan kaidah atau pengertian yang menentukan hal-hal yang dianggap baik dan buruk (Poedjawianto, 1990:27).
Dari semua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa nilai moral adalah aturan-aturan atau kaidah-kaidah yang dianggap baik dan buruk oleh manusia dan makhluk lain ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan harus dapat mengemban dan menerapkannya dengan bersikap dan berprilaku yang baik dan bertaqwa kepada Tuhan.
Partiwintaro dkk, (1992:120) mengemukakan ajaran moral sebagai berikut:
“Ajaran yang mengandung nilai moral meliputi:
(1) nilai moral yang terkandung dalam hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, (2) nilai moral yang terkandungdalam hubungan antara manusia dengan sesama manusia, (3) nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusi dengan alam semesta, (4) nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan Tuhan”

E.     Ajaran Mengenai Nilai Moral
(1)   Nilai Moral yang Terkandung dalam Hubungan Antara Manusia dengan Dirinya Sendiri
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki kaidah yang sepatutnya dipatuhi oleh dirinya sendiri dalam melakukan tinkadan, ataupun perbuatan. Keutamaan moral sehubungan dengan batin atau kata hati manusia untuk perbuatan baik meliputi kerendahan hati, penuh percaya diri,  keterbukaan, kejujuran, kerja keras, keandalan, dan penuh kasih (Bakry, 1990:124).
Bakry (1990:128) mengungkapkan bahwa:
“Yang digolongkan nilai moral yang terkandung dalam hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri antara lain: pengendalian diri, mawas diri, berani mengakui dosa, atau perbuatan salah, senang hidup sederhana, bertindak wajar dan jujur, dapat berpikir panjang, bekerja keras, percaya diri, bertindak hati-hati, dan berlaku adil.”

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri adalah kaidah atau aturan yang dipatuhi oleh diri sendiri yang meliputi kerendahan hati, pengendalian diri, berkata jujur,  berlaku adil, danpenuh kasih.
(2)   Nilai Moral yang Terkandung dalam Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia
Hartini (1993:54) mengatakan bahwa manusia diharapkan saling kenal mengenal, sehingga terjalin hubungan baik dalam hidupnya harus saling membantu karena dalam kenyataan tidak ada orang yang biasa hidup sendiri tanpa ada bantuan dari orang lain. Hal ini sependapat dengan Ismuhendro dkk (1990:109) yang mengakatan
“yang mengatakan nilai moral yang terkandung dalam hubungan antara manusia dengan sesama manusia meliputi jujur terhadap orang lain, pertalian persahabatan, tolong menolong, kewajiban berbakti atau mengabdi kepada orang lain dan melaksanakan peraturan pemerintah.”

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia antara sesama manusia adalah interaksi antarmanusia dalam kegiatan saling mengenal, tolong menolong, saling menghargai, karena tidak ada manusia yang hidup tanpa bantuan dari orang lain.
(3)   Nilai Moral yang Terkandung dalam Hubungan Antara Manusia dengan Alam Semesta
Menurut Nurhadi (1994:57) mengatakan bahwa manusia mempunyai tugas dan kewajiban terhadap alam semesta yaitu menjaga dan melestarikan semua sumber alam untuk menghindari semua bencana yang disebabkan kecerobohan serta dapat mendapatkan alam semesta dalam alam kehidupan dengan memperhatikan agar dapat berjalan menurut kodratnya.
Nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan alam meliputi pemanfaatan sumber daya alam, menjaga dan melestarikan alam. Apabila setiap manusia telah menyadari rasa tanggung jawabnya terhadap alam berarti kelangsungan hidup manusia akan terjaga kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraannya.
(4)   Nilai Moral yang Terkandung dalam Hubungan Antara Manusia dengan Tuhan
Fachrudin (1984:52) mengatakan:
“Dalam bentuk manusia yang bermental yang baik, selalu dituntut sifat yang sabar, manusia harus mendekatkan diri kepada Tuhan atau sembahyang, berdoa dan bersyukur kepadanya, memohon ampun dari segala dosa yang telah terlanjur dibuat, berjanji akan mengerjakan suruhan-suruhannya dan menghentikan larangannya dengan segala kesungguhan-Nya dan keikhlasan hati.”
Sedangkan Mansyur (1987:52) mengemukakan bahwa akhlak manusia kepada Tuhan adalah sebagai berukut:
“Akhlak Manusia kepada Tuhan meliputi: (1) cinta dan ikhlas kepada-nya; (2) berbaik sangka kepada-Nya; (3) rela atas qodo dan qodar-Nya; (4) bersyukur atas nikmat-Nya; (5) bertawakal kepada-Nya; (6) senantiasa mengingat-Nya; (7) melaksanakan apa-apanya yang disuruh-Nya.”
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai moral yang terkandung dalam hubungan manusia dengan Tuhan meliputi sifat sabar dan selalu mematuhi perintah-Nya serta tidak melakukan hal yang dilarang-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, bersyukur atas nikmat-nya, dan rela atas qodo dan qodar-Nya.
III.   METODE PENELITIAN
A.    Pendekatan Penelitian
Dalam menganalisis nilai moral yang terkandung dalam novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana, maka penulis menggunakan pendekatan Sosiologi Sastra.
Menurut Wolf (dalam Faruk, 2010:4) mengatakan bahwa
“sosiologi kesenian dan kesusastraan merupakan suatu disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari sejumlah studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang agak lebih general yang masing-masing hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan hubungan antara seni/kesusastraan dan masyarakat.”
Abrams (1981:178) mengatakan sosiologi sastra dikenakan pada tulisan-tulisan para kritikus dan ahli sejarah sastra yang  utamanya ditujukan pada cara-cara seseorang pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya, ideologi masyarakat, keadaan-keadaan ekonomi yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan jenis pembaca yang dituju.
Pendapat di atas juga diperkuat oleh pendapat menurut Semi (1993:52) mengatakan sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra, ia mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Produk ketelaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan ke dalam produk kritik sastra”.
B.     Jenis Penelitian
Untuk memudahkan memperoleh data dan kesimpulan secara objektif
tentang nilai-nilai moral dalam novel
Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana, maka langkah yang ditempuh penulis adalah mengadakan
studi kepustakaan yang mengidentifkasi pemilihan dan perumusan masalah, menyelidiki variabel-variabel yang relevan melalui telaah kepustakaan.
Adapun jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Metode deskriptif adalah proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau menuliskan keadaan subyek atau non-objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain). Pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan moral. Langkah yang dilakukan adalah menganalisis teks sastra (novel) untuk menemukan permasalahan yang berhubungan dengan nilai moral yang terdapat dalam novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana.
C.    Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti adalah keaktifan peneliti dalam menganalisi nilai moral yang terdapat dalam novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana.
D.    Sumber Data
Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana Penerbit Dian Rakyat cetakan kedua puluh pada tahun 2010 dengan jumlah halaman sebanyak 156 dan tempat terbitnya di Jakarta. Dipilihnya novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana didasari atas alasan sebagai berikut:
a. Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam menggambarkan tentang fenomena yang sering terjadi di masyarakat, sehingga peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang novel tersebut.
b. Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam memiliki banyak pesan-pesan moral baik yang dapat dipetik hikmahnya.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai nilai-nilai moral yaitu dengan melakukan penulisan pustaka (percetakan). Adapun langkah-langkah yang ditempuh penulis dalam teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.      Membaca novel Dian Yang Tak Kunjung Padam secara keseluruhan.
2.      Memahami isi novel yang telah dibaca dan berkaitan erat dengan masalah moral.
3.      Membuat sinopsis novel Dian Yang Tak Kunjung Padam.
4.      Menganalisis paragraf demi paragraf, bab demi bab, dan melakukan pengklasifikasian.
5.      Mengelompokkan data yang di dalamnya mengandung nilai-nilai moral.
F.     Teknik Analisis Data
Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan maka data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan nilai moral yang dijadikan acuan penelitian meliputi.
1.      Menelaah seluruh data yang telah diperoleh berupa nilai moral dalam Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam.
2.      Mengaitkan data tertulis berupa nilai moral, selanjutnya dikutip untuk memperkuat analisis data.
3.      Apabila hasil penelitian ini sudah akurat serta data yang dibutuhkan telah lengkap maka penelitian ini telah dianggap berakhir.

DAFTAR RUJUKAN
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Aminuddin. 1990. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Bakry, Noor Ms. 1990. Orientasi Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Liberty.
Bertens, K. 1984. Pembinaan Mental: Bimbingan Al-Quran. Jakarta: Bina Angkasa.
Budiardjo, Meriam dkk. 1986. Pengantar Ilmu Politik. Jakarta: Karunika.
Fachrudin. 1984. Pembinaan Bimbingan Al-Quran. Jakarta: Bina Angkasa.
Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik Sampai Post-modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hartini, Sri, dkk. 1993. Pengkajian Nilai-nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa Provinsi Daerah Khusus Ibo Kota Jakarta II. Jakarta: Debdikbud.
Ismuhendro, Hengki, dkk. 1993. Pengkajian Nilai-Nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa Daerah Jawa Timur. Jakarta: Debdikbud.
Mansyur, Kahar. 1987. Membina Morl dan Akhlak. Jakarta: Kala Mulia.
Nurhadi, Gendro, dkk. pengkajian Nilai-Nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa Daerah Jawa Timur. Jakarta: Debdikbud.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Pantiwintaro, dkk. 1992. Pengkajian Nilai-Nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa Daerah Jawa Timur. Jakarta: Debdikbud.
Poedjawianto.1990. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: Rineka Cipta.
Semi,  Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung:  Angkasa.
Sudarsono. 1993. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjiman, Panuti dan Aart van Zoest. 1990. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.
Sukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Rosdakarya.
Soyomukti, Nurani. 2011. Pengantar Filsafat Umum. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA
Wasono, Haris Sudarso.1991. Pengkajian Nilai-Nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Debdikbud.